Sejarah Singkat Kristen Protestan
Agama Kristen ke Nusatenggara Timur mulai tahun 1556,
dengan perantaraan orang-orang Portugis dan orang-orang Belanda. Sama seperti
di daerah-daerah lain, perluasannya terjalin dengan sejarah ekonomis dan
politis daerah itu, dan cara orang memahami iman Kristen dipengaruhi
unsur-unsur agama suku dan ideologi-negara dari barat. Pada akhir zaan ini,
baik Gereja Katolik-Roma maupun Gereja Protestan mempunyai Pangkalan di NTT.
Tetapi perkembangan Agama Kristen yang lebih luas dan lebih mendalam baru datang
pada abad ke-19 dan ke-20.
Melihat pentingnya sejarah gereja dalam kehidupan jemaat, Jemaat ditugaskan
untuk melakukan Persiapan dalam penyambutan dan persiapan dalam ini menilik
sejarah gereja di GMIT. “Paulus Oepoli”.
Dimulai dengan orang-orang di pulau timor yang tidak mengenal
Tuhan. Yang dimana menyembah dewa-dewa yang di percayai dan masih kafir. Pada
tahun 1600-an, inggris masuk ke tanah timor tetapi tidak ada aktifitas apa-apa,
lalu setelah itu ada portugis yang juga masuk ke tanah timor dan akhirnya
inggris mundur/meninggalkan tanah timor dan portugis yang menempati tanah
timor. Pada tahun 1700 masuklah belanda ke tanah timor melalui bagian barat
yaitu menyebrang dari rote datang ke pulau timor dan bertemu dengan portugis di
pulau timor. Lalu belanda dan juga portugis membuat suatu perundingan dan
akhirnya portugis mundur dan belanda yang menguasai pulau timor.
Adapun misi daripada
belanda yaitu membuka gereja. Pada tahun 1700-an belanda membuka gereja di
pulau timor dan belanda menguasai Kupang dengan misinya yaitu membuka/membangun
gereja dan mulai tersebar di seluruh tanah timor. Lalu Belanda menempatkan
Pendeta di tengah-tengah pulau timor, yaitu di soe untuk mengembangkan dan juga
untuk membuka gereja-gereja di pulau timor wilayah barat. Wilayah kekuasaan
Belanda sendiri adalah protestan. Setelah itu mulai pengembangan dan pembukaan
gereja-gereja timor khususnya di kerajaan Amfoang. Setelah penempatan pendeta
tahun 1800-an ditempatkan seorang pendeta bernama Van Alven yang berkedudukan
di kapan-TTS, dan ia mulai mengadakan kunjungan ke tempat-tempat terdekat yaitu
molo, amanuban dan amanatun. Setelah itu ia berkunjung ke wilayah Amfoang
bagian timur tepatnya di suatu tempat bernama Mamlasi. Pada tahun 1911, Pendeta
Van Alven mulai mengadakan pendekatan pelayanan kepada jemaat di oemanu. Lalu
ia bertemu dengan raja Amfoang dan Vetor Honuk untuk meminta izin jika raja dan
vetor berkenan ia ingin membuka gereja kristen protestan di Oemanu, dan pada
1911 ia membuka Gereja Oemanu, Kevetoran Honuk, Kerajaan Amfoang. Setelah ia
membuka gereja ia melanjutkan perkunjungannya dan pada tahun 1912 ia membuka
sebuah sekolah dengan nama “Sekolah Rakyat Kristen”di oemanu.
Lalu pada tahun 1953, seorang Pendeta bernama Nenabu ditempatkan
di sebuah tempat bernama Mamlasi. 1915 tibanya seorang bernama Mikhael Tei (Bai
Tei) di Mamlasi sebagai kepala sekolah di Sekolah Rakyat Kristen Oemanu. Selain
sebagai kepala sekolah ia juga dipercayakan sebagai guru injil tetapi tidak
melaksanakan pelayanan sakramen (Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus). Ia
sebagai guru injil mulai mengajarkan katekesasi pada orang-orang di tempat
tersebut (oemanu, mamlasi). Lalu pada tahun 1917 Mikhael Tei (baitei)
dipindahkan oleh Pendeta Van Al Ven ke Bakuin (ibukota kevetoran honuk) dengan
tujuan supaya wilayah kependetaan oemanu dipindahkan ke bakuin karena merupakan
ibukota kevetoran honuk. Pada tahun yang sama yaitu 1917 Mikhael Tei
membuka/membangun Gereja di bakuin. Sedangkan Pendeta Nenabu bertempat di
oemanu dan menjalankan tugas pelayanannya hingga pembentukan mata-mata jemaat.
Lalu pada pengembangan mata jemaat dibukanya Gereja Imanuel Taloi, Setelah itu
Bakuin menjadi wilayah kependetaan kevetoran honuk dan terus berkembang.
Setelah Imanuel Taloi tadinya lalu dibukanya mata jemaat Asenan yang bersamaan
dengan Sion Maumate, dan dilanjutkan dengan mata jemaat Oebokes yang bersamaan
dengan Tunman, dan mata jemaat Bifafi yang bersamaan dengan mata jemaat
Neknusan.
Pada tahun 1965, ada yang namanya Tim Api (Pak Selan dan
anggotanya). Mereka masuk dan berkunjung ke wilayah-wilayah kependetaan yang
ada termasuk wilayah kependetaan Netemnanu. Mereka masuk dan menguatkan
kepercayaan (iman) jemaat untuk mereka betul-betul yakin dan juga percaya bahwa
Tuhan itu ada. Dan semua berhala-berhala yang mereka pakai atau gunakan
akhirnya ditiadakan (dibakar). Dan akhirnya jemaat pun yakin dan juga menjadi
percaya bahwa Tuhan Yesus (Usi Neno) itu ada. Dan mata-mata jemaat yang ada
dipanggil dan didoakan (pelayanan pertobatan).
Setelah itu perkembangan pemerintahan mulai meluas, pada tahun
1967 adanya satu instruksi gubernur yaitu resettelement desa dan juga
pembentukan desa gaya baru dan pelaksanaannya pada tahun 1968. Pada tahun yang
sama pembentukan desa di wilayah pelayanan, dan pelayanan pada mata-mata jemaat
ini pun tidak berubah dan mata-mata jemaat tersebut berpusat di Imanuel Taloi
sebagai wilayah kependetaan Netemnanu. Jadi wilayah kependetaan Netemnanu,
Jemaat pusatnya yaitu Imanuel Taloi. Setelah pembentukan desa gaya baru,
pelayanan pun berjalan terus seperti biasanya dan tidak berubah.
Adapun Pendeta Marx Yakob
yang bertempat di oemanu (mamlasi) lalu pindah ke manufui, setelah itu ia
diganti oleh Pendeta Nimrot Faot yaitu di Netemnanu. Pada tahun 1971-1972
program resettelement (pemindahan penduduk dari pegunungan ke dataran) maka
terpengaruhlah wilayah netemnanu (mata-mata jemaat) yang dimana terjadilah
penggabungan yaitu mata jemaat oemanu, asenan, maumate, dan taloi bergabung dan
turun ke Oepoli dan menjadi Jemaat Paulus Oepoli. Ditengah perjalanan
pelayanan Hosana Tataum mengusulkan untuk pemekaran jemaat paulus, dan yang
mekar adalah Binoni.
Pendeta
pada wilayah pelayanan netemnanu (jemaat paulus oepoli) sebelum berdiri sendiri
yaitu mulai dari Pdt N. Faot (1975), Pdt. Tonis (1978), Pdt. Benyamin Bani
(1982- 2000), Pdt Jerison R. Djo Rake (2000-2012), Pdt. Melki J. Ulu, M.Th
(2013-Agustus 2022)Pembangunan Gereja pun sangat disetujui dan didukung penuh
oleh pemerintah (vetor) dan juga masyarakat sekitar. Untuk Pelayanan sakramen
pun di laksanakan di netemnanu (Imanuel Taloi).
Tokoh Gereja saat itu untuk kevetoran honuk, Pendeta Van Al Ven menobatkan Laazar Kameo sebagai tokoh gereja/pendiri gereja dan juga temukung-temukung wilayah kevetoran honuk.
